Pagi tadi sekitar jam setengah 7an, saya nganter adik angkat saya untuk berangkat kuliah di salah satu universitas swasta di Jalan Soekarno Hatta, Bandung. Di jalan, kami berniat untuk sabu (sarapan bubur) dahulu. Kayaknya kami pelanggan pertama, dan dilanjut dengan segelintir orang lain yang terus datang untuk sabu ditempat atau dibungkus dan di bawa pulang.
Lalu saya kepikiran dengan video Youtube nya Pak Mardigu Wowiek si Bossman Sontoloyo ini ketika membahas Infrastruktur Rezeki. Izinkan saya bercerita sedikit tentang video Infrastruktur Rezeki yang dimaksud Pak Mardigu ini.
Di video tersebut menjelaskan bagaimana Pak Mardigu bermitra usaha dengan bapak angkatnya yang sudah berusia diatas 20 tahun diatas nya, seorang asli Bali. Ia bermitra usaha sudah 25 tahun lebih. Pak Mardigu juga menjabat sebagai komisaris diperusahaannya dan mempunyai saham kecil di organisasinya. Saat itu mereka memiliki 600 lebih pegawai.
Mereka berdiskusi disalah satu restoran padang favorit mereka, lalu berbicara masalah perusahaannya 3 bulan terakhir ini mereka harus pinjam sana sini untuk menutupi biaya overhead perusahaannya.
Bapak angkat nya meminta saran kepada Pak Mardigu dengan nada serius setelah berbicara bagaimana harus cari cara untuk menghidupkan perusahaan setiap saat. Maka dari itu pegawai tidak perlu tau soal ini.
Pak Mardigu lalu memberi saran, "Begini be, bagaimana kalo kita siapkan paket Shakehand, Golden Shakehand kalo perlu. Kita adakan program pensiun dini, kita adakan beberapa orang yang ingin pensiun dini, kita pensiunkan. Dan beberapa orang yang tidak perfom kita pecat, kalo perlu orang-orang yang mungkin lagi tidak kita butuhkan, kita rumahkan tanpa gaji. Bagaimana, be, kira-kira?" begitulah kurang lebih Pak Mardigu menjawab sarannya kepada bapak angkatnya.
Mendengar saran Pak Mardigu seperti itu si Babe panggilan akrab ke bapak angkatnya, wajahnya berubah, ia menghentikan makannya, matanya menatap tajam dan suarannya menegang. "Kamu sombong Mardigu, nggak ada rumus pecat karyawan itu, nggak ada yang namanya dirumahkan, nggak ada yang namanya paket Golden Shakehand sekalipun. Mereka semua sudah bekerja sudah sangat keras, mereka adalah orang pilihan, kamu harus cari cara lain!". Begitulah nadanya sangat keras. Lalu ia melanjutkan bicaranya setelah terhenti sesaat.
"Kamu jangan pernah berfikir bahwa apa yang selama ini kita dapat adalah berkat kepintaran kamu atau kepintaran saya, nggak ada itu. Semua itu terjadi bukan karena kita, ini merupakan jawaban dari 600 doa pegawai kita dan keluarganya, mungkin kalo dikumpulkan ini adalah doa dari 1500 orang. Jujur, kamu harus berfikir berbeda dengan apa yang kamu katakan barusan. Ini semua bukan karena kamu, bukan karena saya. Jangan mentang-mentang ekonomi lagi turun, kita lagi susah, pegawai kita pecat. Bukan begitu. Nggak bisa begitu. Ini contoh aja ya, coba bayangkan kamu berdoa dengan ikhlas dan bekerja sangat keras dan jujur, lalu di catatan langit kamu harus dapat rezeki 10 miliar bulan ini. Coba bayangkan ini, maka malaikat ditugaskan untuk menurunkan 10 miliar itu tadi pasti perlu INFRASTRUKTUR REZEKI untuk turun, dimana itu? Yaitu bisnis kamu. Jadi malaikat turunkan rezeki kamu lewat bisnis kamu. Begitu juga doa 1500an anggota keluarga pegawai kita, begitu mereka harus dapat rezeki, dilangit mereka tercatat untuk mendapatkan rezeki, maka malaikat akan menurunkan lewat perusahaan kita. Itulah yang membuat perusahaan kita berdiri lebih dari 25 tahun. Jadi ini bukan karena kepintaran kamu, bukan karena jabatan kamu, bukan karena saya. Kita ini hanya penyambung jalannya rezeki, usaha kita itu hanyalah INFRASTRUKTUR keluarga pegawai kita untuk rezeki itu turun ke mereka. Faham kamu?! Jangan sombong kamu berfikir, jangan mentang-mentang kamu pemilik. Cabut kata-kata kamu itu, cari kata-kata lain, cari cara lain!". Pak Mardigu langsung terdiam.
Kita kembali pada saat saya dan adik angkat saya saat sabu. Saya berfikir keras ketika seorang yang mencoba membuka usaha lewat jualan kecil-kecilan, bahasa kerennya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), betapa senangnya mendapat pelanggan yang mengucur setiap harinya. Walaupun hanya usaha kecil-kecilan, dan hanya itu yg mereka bisa lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, saya yakin diantara pelanggan ini pasti sering berdoa untuk orang lain yang mewakili saudara seiman dan saudara kemanusiaan di setiap ibadahnya. Begitupun sebaliknya, yang berdoa, bekerja keras dan jujur mencari nafkah, apapun bentuknya, mau sebagai wiraswasta, swasta atau buruh, berjualan kecil-kecilan dan lain sebagainya.
Sehingga selalu ada catatan dilangit setiap orang yang berusaha, bekerja keras, berdoa dan jujur. Tuhan juga berbisnis. Berbisnis dengan cara vertikal dan horizontal. Tuhan mengerti pasar alam semesta termasuk manusia dimuka bumi. Untuk bisa datang kepada-Nya dengan keadaan ridho dan di ridhoi, Tuhan meng-educate via buku panduan kitab suci yang diwariskan Nabi terkahir. Yaitu tadi, untuk bisa berusaha, bekerja keras, berdoa, dan jujur.
Kita semua adalah INFRASTRUKTUR REZEKI. Apapun bentuknya, tidak hanya materialistis. Kita semua sama-sama diajak kembali kepada-Nya, untuk tinggal bersama-Nya, disurga-Nya yang kekal dan abadi.
Bisa sharing,bang
ReplyDelete